Posts Tagged ‘Nikah’
Self Interview
Q : Sebentar lagi anda menikah, jadi toh ?
A : Jadi kok
Q : Bagaimana perasaan anda ?
A : Biasa-biasa saja kok. Nothing special. Yah sama seperti hari-hari yang lain.
Q : Tidak deg-degan ? Tidak nervous ? Tidak stress ?
A : Tidak. Tidak. Tidak.
Q : Kok bisa tidak deg-degan ?
: A : Saya rasa semua deg-degan sudah habis ketika lamaran. Saat itu sih benar-benar deg-degan. Lebih stress daripada mau sidang tugas akhir pas kuliah
Q : Jadi semuanya sudah siap ?
A : Insya Allah semuanya sudah siap.
Q : Pestanya ? Undangan ? Makanan ?
A : Insya Allah sudah siap. Undangan sudah disebar, makanan sudah dimakan.
Q : Tidak ada culture shock ?
A : Maksudnya ?
Q : Transisi dari jomblo ke suami, kaget gak tuh ?
A : Lha belum tau juga, pastinya ada perbedaan sih, tapi rasanya bagaimana harus nanti setelah resmi jadi suami baru tau. Sekarang sih walau bagaimana kan masih tetap sama seperti kemarin, cuman sabtu minggu ada tempat lain selain kamar kos ![]()
Q : Kira-kira aja laah… kaget gak ?
A : Mau ngira-ngira bagaimana juga masih tetep gak valid selama belum ngalamin sendiri. Karena ketika sudah resmi jadi suami istri, dimensinya baru berubah (ngomong apa sih ? red). Sekarang ini seperti yang saya katakan barusan, masih sama seperti yang dulu-dulu. Masih tinggal di kamar kos, masih makan ayam goreng atau bebek goreng atau parahnya mie goreng buatan kumis :lol:
Q : Kalau apa yang sampeyan tau dari orang lain ?
A : Waduh, apa yang orang lain alami kan bukan apa yang saya akan alami, tentu saja berbeda dan itu unik untuk setiap orang.
Q : Jadi no comment ya ?
A : No comment gimana wong jawabnya panjang lebar gitu.
Q : Iya tapi panjang lebar bukan berarti anda menjawab. Jadi saya anggap no comment.
A : wise ass!!!
Q : No swearing please.
A : I will say what i want to say.
Q : Fine
A : Fine
Q : Fine!!
A : Fine!!
Buku Nikah
Beberapa hari yang lalu saya dan calon istri diundang oleh KUA di daerah calon istri saya, di tempat nanti acaranya berlangsung tentunya, untuk mengikuti kursus (sebelum) pernikahan.
Pada undangan sih tertera acara dimulai pada pukul 8:30 pagi, jadi dengan berat mata dan hati ( bangun pagi2 memang berat ) saya berangkat dari kos sekitar jam 6 pagi. Karena ternyata masih terlalu pagi, saya mampir dulu ke rumah, sekalian sarapan karena memang belum sarapan dan kata orang sarapan pagi adalah makan yang paling penting
.
So, kami berangkat jam 8 lebih, karena kantor KUAnya ternyata dekat, dan sesampainya disana baru ada satu pasang calon penganten yang sudah datang. Pendek kata, acara dimulai pukul 9 lebih, dan ternyata acaranya sendiri adalah semacam penataran yang berisi penjelasan tentang pernikahan dan apa saja yang akan dan mungkin terjadi pada dan selama proses pernikahan. Dan sesudahnya.
Salah satu pembicara mengetengahkan pentingnya perlengkapan administrasi pernikahan, yang akhirnya menjadi buku nikah. Karena pengalaman selama ini, ternyata banyak sekali pihak-pihak yang dirugikan dikarenakan tidak ada bukti pernikahan. Baik itu masalah status kedua pihak maupun pada saat pengurusan hal-hal yang menyangkut masalah kekeluargaan hingga sampai ke masalah waris.
Agak mengagetkan karena mengingat bahwa sebenarnya pernikahan yang sah adalah pernikahan yang dilaksanakan oleh ayah dari mempelai wanita kepada mempelai lelaki yang disaksikan oleh beberapa saksi. Atau ijab kabul, dan kalau ijab kabul tanpa administrasi dari pemerintahan (KUA) maka disebut pernikahan siri atau nikah dibawah tangan.
Pernikahan dalam Islam ya ijab kabul itu.. 14 abad yang lalu toh tidak ada institusi semacam KUA yang akan menerbitkan buku nikah, tapi pernikahan jaman itu (dan sampai sekarang atau sampai kiamat) sah dan mengikat. Entah bagaimana pada jaman sekarang ini, pernikahan yang hanya dengan ijab kabul tanpa administrasi sangat-sangat negatif.
Mengingat bahwa memang banyak orang yang kemudian memanfaatkan hukum negara ini, yang mengatakan kalau belum bawa buku nikah berarti bisa saja belum nikah, atau karena banyak yang tidak setia pada pernikahannya sehingga diterbitkan buku nikah, maka memang buku nikah itu diperlukan. Terutama bagi para wanita yang akan dirugikan terlebih besar daripada para laki-laki.
Anyway.. dari apa yang terjadi sih, yang paling keliatan jelas adalah bahwa hukum Islam sendiri, yang seharusnya menjadi hukum tertinggi bagi umat Islam, mulai tersisih oleh hukum-hukum yang dibuat oleh institusi negara. Salah siapa ?
