Bersyukur

Saya teringat khotbah jumat beberapa minggu yang lalu tentang suatu hal yang sudah lazim kita dengar, yaitu bersyukur. Berbeda dengan terima kasih, maka bersyukur itu selangkah lagi lebih maju dengan cara memanfaatkan apa yang kita dapatkan sesuai dengan harapan yang memberika atau yang lebih baik. Contoh yang diberikan ada beberapa tapi saya hanya ingat satu contoh, seorang pedagang yang bersyukur adalah pedagang yang ketika diberikan untung maka dia akan menggunakan untung tersebut untuk memenuhi kebutuhannya dan menginvestasikan sebagian untuk menambah modal dagangnya, tentu saja tanpa melupakan pemberian hak kepada fakir & miskin.

Saya kebetulan teringat khotbah tersebut ketika berbincang-bincang masalah petani dan tembakau di temanggung. Tembakau adalah sumber penghasilan dan komoditas utama di temanggung selama beberapa puluh tahun terakhir. Perputaran uang selama musim tembakau, 3 bulan, mencapai belasan milyar rupiah, oleh karena itu tembakau tidak hanya menghidupi tapi juga membuat kaya berbagai kalangan, dari petani, pedagang ( atau makelar ) tembakau, para buruh, pembuat keranjang, rig ( tempat tembakau dijemur ) sampai ke pedagang kagetan dari berbagai daerah yang khusus berdagang ketika musim tembakau tiba.

Tapi banyak sisi gelap dari bisnis tembakau, mulai dari ijon, pemberatan tembakau dengan gula, sampai praktek oleh gudang pembeli yang merugikan petani, seperti penundaan pembelian, kualitas baik dikatakan jelek, sampai taktik pembelin panen pertama yang tinggi dan panen kedua harga dijatuhkan ( kualitas tembakau pada panen kedua rata2 jauh diatas panen pertama ) yang jelas menguntungkan gudang. Dan harga-harga yang melambung tinggi, dari kebutuhan pokok sampai berbagai pernik-pernik remeh seperti korek api.

Ada yang sangat tidak menguntungkan dari mengalirnya sedemikian besar uang, yaitu pada perubahan pola pikir sebagian besar para pelaku bisnis. Uang kemudian menjadi driving force. Hak penting seperti pendidikan menjadi terlupakan, bahkan terkalahkan. Mengapa bersekolah tinggi kalau lulus sd saja bisa bikin rumah apdan beli mobil? Bahkan sekolahpun sepi jika musim tembakau tiba. Bukan hanya itu, kerusakan alam sudah demikian parah, bukit yang dulu hijaupun menjadi ladang tembakau.

Kemudian, sunatullah berjalan. Seperti segala hal dalam kehidupan, ada masa dimana tembakau sangat berjaya, ada juga masanya dimana tembakau bukan lagi emas hijau. Dan masa tersebut sudah mulai dari beberapa tahun yang lalu, mulai dari musim yang tidak sesuai sampai ke peraturan pemerintah tentang kadar nikotin. Tembakau temanggung adalah salah satu tembakau berkualitas terbaik diindonesia, dengan kadar nikotin tinggi ( nikotin adalah penentu kualitas tembakau ), jadi peraturan pemerintah tersebut sangat memukul bisnis tembakau.
Para petani biasanya berhutang di bank atau pada para tengkulak ( dengan janji akan menjual hasilnya pada tengkulak tersebut yang kemudian dibeli dengan harga sangat murah ) untuk memulai musim. Ketika harga hancur, hancur juga kehidupan petani. Baik bank maupun tengkulak akan menyita tanah jaminan.

Sebenarnya, dalam banyak hal, bisnis tembakau bisa sangat menguntungkan petani, toh mereka yang paling berusaha, seharusnya merekalah yang paling berhak menuai hasilnya. Tapi karena pemikiran-pemikiran yang salah seperti diatas, maka umumnya para petani yang berpendidikan rendah mudah saja untuk diperas, ditipu oleh para pedagang maupun pihak pabrik.

Singkatnya, jika mereka mau bersyukur dengan menggunakan hasil usaha mereka untuk kemajuan anak2nya, sehingga menjadi smart farmer, seharusnya temanggung sudah menjadi salah satu sentra ekonomi yang kuat di jawa tengah. Sayangnya kebanyakan bersyukur pada yang salah, yaitu uang…

:smile:

Tags: ,

No Comments