Archive for February, 2007
Walah DPRD
Ampun deh kalau sudah masalah uang, tidak ada lagi hati atau moral atau pikiran sehat yang tersisa.
Beberapa waktu yang lalu pemerintah mengeluarkan undang-undang yang mengatur bagaimana setiap daerah bisa mengapresiasi pengabdian para wakil rakyat dengan membatasi jumlah maksimal yang bisa diberikan. Jumlah maksimal disini dimaksudkan supaya daerah yang lebih kaya bisa memberikan lebih, dan daerah yang lebih miskin tidak memaksakan diri untuk memberikan apresiasi melebihi kemampuan daerah bersangkutan.
Tapi yang ada adalah para wakil rakyat yang (tidak) terhormat tersebut mengeksploitasi undang-undang tersebut untuk mendapatkan ‘hasil maksimal’ hehe. Ketika muncul kontra dari beberapa partai, maka pemerintah berencana untuk membatalkan undang-undang tersebut.
Artinya, setiap anggota DPRD yang sudah menerima rapelan harus mengembalikan setiap sen dari uang tersebut. Tapiiii… tiba-tiba banyak anggota DPRD yang ternyata memiliki koalisi anggota DPRD, baru tau nih, datang ke Jakarta untuk memprotes mencabutan peraturan tersebut. Alasannya sih gampang, mereka tidak bisa, atau mau, mengembalikan uang rapelan. Sudah jadi mobil, atau rumah, atau simpanan mungkin. Can you believe it ?
Bukan karena alasan yang mendasar seperti mungkin dalam undang-undang dasar ada pasal yang mengatakan bahwa peraturan pemerintah atau undang-undang yang sudah diputuskan tidak dapat dicabut, atau pencabutan tersebut melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan atau seribu alasan yang mungkin bisa dipikirkan, tapi karena uang. Uang yang bukan hak mereka, tapi dengan senang hati mereka habiskan. Unbelievable.
Kalau urusan perut mereka sendiri yang terganggu, semangatnya minta ampun.
Un-F*****g-believable.
The Blame Game
Beberapa hari yang lalu, di beberapa media televisi nasional, beberapa anggota masyarakat jakarta, termasuk pelawak opi kumis, yang rumahnya turut tergenang banjir, mengatakan sudah tidak ada masa lagi untuk saling menyalahkan, lebih baik introspeksi diri, baik masyarakat maupun pemerintah, agar bencana abnjir kali ini cepat bisa diatasi dan musibah mendatang bisa dielakkan. Nice kan ??
Tapi kemudian malah pemerintah daerah sendiri, yang disuarakan oleh sang gubernur, sutiyoso, berkata lain.. selama dua hari bang yos ini bilang kalau skala banjir tahun ini lebih kecil dari tahun 2002, pertama dan kemudian mengatakan kalau banjir sekarang ini kesalahan penanganan hulu ( pemda bogor ). Lha ? kok bisa sperti itu sih ? Padahal menurut berita, banjir kali ini kebanyakan malah belum karena kiriman dari bogor, tapi karena hujan lebat di jakarta. Nah lho..
Dan logikanya, kalau sarana pencegahan banjir dijakarta memadai, maka sebanyak apapun kiriman dari bogor ( dan langit ) tentu yang terjadi tidak akan seperti sekarang ini. Tapi melihat dengan gampangnya gedung dibuat, mal dibangun jalan-jalan ditambah, perumahan-perumahan berjamur, tanpa ada pemikiran matang dari semua sisi, terutama tata letak dan ruang jakarta, sampai bertahun-tahun kedepan kondisi di jakarta tidak akan ada perubahan.
Beda sekali semangat masyarakat jakarta dengan semangat pemdanya. Mungkin orang-orang jakarta sudah apati dengan pemda dki, mau bilang apapun tidak akan didengarkan oleh gubernur, yang saya ragu rumahnya juga kebanjiran. Mungkin mereka sudah sedemikian pasrahnya, dan ini memang keliatan, sehingga berpikir ya sudahlah, orang sudah banjir mau diapain lagi.
Tapi kan hidup ini bukan hanya pada satu masa saja, masih ada musim hujan tahun depan, dan tahun selanjutnya. Kalaupun saat ini tidak bisa berbuat apa-apa, masyarakat masih bisa menuntut pemerintah untuk berbuat demi masa depan. Kalau masyarakat sendiri hanya diam pasrah dan tidak mau meminta pemda, yang notabene adalah pihak yang diberi mandat untuk mengatur jakarta, untuk memperbaiki keadaan, ya apa boleh buat, selamat datang banjir kita ucapkan tahun depan.
Tags: Banjir, Jakarta, Pemda, Politik
Banjir besar (lagi)
Jakarta banjir (lagi)!! setelah diguyur hujan selama dua hari, ternyata jakarta membuktikan dirinya tidak mampu mengatasi apa yang seharusnya menjadi berkah dari langit, dan merubahnya menjadi bencana bagi orang-orang yang tinggal didalamnya.
Kalau melihat skalanya, di tivi, rasanya kok tahun ini banjirnya jauh lebih besar dari banjir serupa sebelumnya pada tahun 2002. Perbandingannya jelas, wilayah- wilayah yang pada banjir sebelumnya tidak terkena, pada tahun ini juga mendapatkan bagian.
Seingat saya, pada tahun 2002 juga terjadi hujan terus menerus selama 2 hari, sama seperti kejadian tahun ini, tetapi tahun ini daya rusaknya melebihi banjir yang lalu.
Mengapa ?
Yang jelas jakarta sudah berubah sejak banjir besar tahun 2002. Sayangnya perubahan tersebut tidak menuju ke jakarta yang lebih siap menghadapi curah hujan tiap tahun, tapi mengarah ke pertumbuhan ekonomi, dengan munculnya mal-mal dimana-mana, perumahan-perumahan baru dan jalan-jalan baru yang menghubungkannya dengan kota jakarta, yang secara tidak langsung sudah mengambil hak air hujan seperti tanah resapan dan jalur air keluar jakarta.
Konsekuensinya jelas, banjir lagi dan lagi dan lagi.
So, siapa yang bisa kita tunjuk sebagai kambing hitam ? selain kambing itu itu sendiri ? :lol:. Pihak mana yang menjadi sumber permasalahan sehingga pembangunan jakarta tidak lagi memperhatikan lagi akibat-akibat yang mungkin muncul ?
Para pengusaha mencoba mencari banyak untung dengan mendirikan mal-mal baru, pemerintah yang dengan senang hari menyetujui pembangunannya, atau masyarakat yang tidak disiplin membuang sampah, membersihkan lingkungan, termasuk selokan, dan sangat senang dengan mal-mal baru ?
Hmm.. apa kita salahkan saja Tuhan karena sudah tau jakarta dihujani bakalan banjir tapi masih tetap menurunkan hujan ?
Wisata karamba
Sabtu ini agak berbeda karena kita tidak dibangunin buat kerja, tapi untuk diajak makan disatu tempat di luar bontang. yang dimaksud dengan diluar itu benar- benar diluar kota dan diluar pulau.
Untuk ke tempat wisata tersebut diperlukna perjalanan selama 10 menit dengan menggunakan speedboat. cukup cepat sih, hanya saja cukup lama bagi yang deg- degan :lol:
Setelah sampai, ternyata wisata karamba itu adalah tempat wisata yang aslinya adalah rumah-rumah dari penduduk lokal di situ. hanya saja rumah-rumah itu terletak ditengah laut. ![]()
Dengan kedalaman laut sekitar 3 meteran, mungkin lebih, dan rumah- rumah yang didirikan dengan tonggak kayu, dan semuanya, dari jalan di depan rumah juga kayu, membuat keadaan yang ‘biasa’ itu menjadi luar biasa. Hebat juga orang-orang jaman dahulu yang punya pikiran untuk membuat perkampungan ditengah laut begini.
Anyway, wisata karamba begini tidak lengkap kalau tidak merasakan hasil lautan disitu. Sebenarnya sih tujuan kami kesana memang untuk makan siang :lol:. Pemandangan disana benar- benar merupakan bonus yang menyenangkan.
Makan siangnya sendiri adalah ikan bawal bakar dengan sambel dan sayuran. Dan memang menjadi makanan terenak selama saya berada di bontang ini hehe.. Siang-siang, ditemani angi laut, makanan panas dan sambel yang pedas dan enak.. sungguh menyenangkan.
Setelah selesai makan, kami sempat melihat-lihat perkampungan tersebut, yang ternyata juga terdapat masjid dan sekolah. Listrik untuk tiap rumah diambil dari panel surya yang dipasang pada tiap atap. neat ![]()
Well, setelah puas jalan-jalan, kamipun langsung pulang kembali ke bontang.. ke pekerjaan.. ke lembur..
Nice place though ![]()
Tags: Bontang, Makan, Pariwisata
