Archive for September, 2005
Capek
Blog baru dibikin, tetapi sudah seminggu tidak terisi..
Ada alasannya kok, selama seminggu lebih ini jam kerja saya melebar menjadi jam 8 sampai jam 24 malam ![]()
Dalam seminggu ini saya harus membuat program kecil untuk sinkronisasi data dan menjalankan satu program lagi yang hanya bisa dijalankan pada malam hari, karena harus menunggu agar tidak ada traksaksi yang berjalan.
Setelah pekerjaan tersebut selesai, yang tersisa hanya satu, capek. Dan tidak main-main capeknya, sabtu minggu kemarin, saya bangun jam 10 siang.. bukan main. Nampaknya, usia memang tidak bisa ditipu. Apalagi seseorang yang sama sekali tidak pernah olahraga, padahal salah satu resep hidup sehat adalah olahraga, yang bisa menambah stamina.. Sementara ini yang terpenuhi memang hanya ‘tidur yang cukup’, malah mungkin berlebih :lol:, sementara makan yang seimbang dan olahraga tidak ada sama sekali.
Sekarangpun masih terasa capeknya..
Holocaust
Diambil dari jawaban atas readers letters di WhatReallyHappened.com.
layak untuk dibaca, pandangan obyektif tentang apa yang terjadi.
Nobody is saying that bad things did not happen in WW2 in Germany. What is being said is that the bad things have been “spun” for political advantage. You mention Aushwitz. I’ve been there. The stone marker in front was recently changed and the number of deaths FROM ALL CAUSES reduced by 2.5 million. The actual camp is nothing at all like the movies show. The workers had swimming pools, theaters, even a bordello. And the inmates were from ALL races, not just Jewish people. The main cause of the deaths seems to have been typhus. That huge crematoreum shown to the tourists was built AFTER THE WAR ENDED to deal with the typhoid epidemic, which was claiming everyone, including the Germans themselves. The International Red Cross had unfettered access to those camps throughout the war. Their reports are consistant; the camps were ravaged by epidemics towards the end of the war as the German civil systems broke down. Zyklon-B was an INSECTICIDE, used for delousing. The door to the gas chamber at Aushwitz has a glass pane in the upper half that anyone could shatter with their elbow. We have all read the stories of the camp inmates who claim to have survived four and six “attempts” at gassing. Are these superhumans? No, they are people who were being deloused, to limit the spread of desease. The stories about lampshades made from human skin and soap made from prisoners turned out to be hoaxes, as much hoaxes as the story about stolen incubators used to launch the first Iraq war. All governments lie to their people. That is the leson of this age.
So, why the transformation of the story of slave labor camps decimated by desease into extermination centers targeting only Jewish people? Well, look at the context of the times. The world had just spent vast amounts of treasure and blood to stop Hitler frokm marching into other peoples’ countries and taking them for his own use. But here you had the founders of Israel wanting to to do precisely that to Palestine; march in and take it for their own use. Israel needed a propaganda device powerfuil enough to convince the world that Israel had to be allowed to do what Hitler was prevented from doing. So, the spin began. The very real horrors of the Nazis were magnified and amplified using the principle of the “Big Lie”; tell a big enough lie and people will tend to believe it. This created the political climate for Israel to steal Palestine and turn it into the nation of Israel.
Since then, Israel has greatly feared that the deceptions about WW2 might become widely know, undermining Israel’s justification for all that it does to the Palestinians. As a result, there are holocaust museums in every major city and endless holocaust “documentaries” pouring from big screen and little screen. Anyone who questions the orthodox account is treated as a heretic fit only for burning at the stake. The fanatical defensivness of the “Holocaust industry” coupled with their total refual to allow any factual investigation has raised suspicions in the minds of many that Germany’s “deliberate plan of extermination” may have been no more real than Saddam’s ‘nookular’ bombs. Aside from one confession extracted under torture, the available historical documents seem to indicate that Germany’s final solution was actually a planned emmigration, blocked oddly enough by Zionists because the Germans chose Africa for the new Jewish state.
In the end, the constant harangue about the holocaust is tiring people out. We are, after all, talking about events in the middle of the last century, some of us prefer to live in the present, and we have problems today, here and now, not the least of which is Israel trying to drive the US into wars with other nations. The constant message from the holocaust induustry is that this one genocide is the only one worth caring about. The 20 million killed by Stalin don’t rate, nor the millions more by Pol Pot, let alone what is happening even now in Iraq. The displayed attitude is that we are only supposed to worry about what happens to this one particular ethnic group to the exclusion of all others, and this has created the impression that the holocaust industry is an extremely self-centered group of people operating uner the theory that the rest of the world should only care what happens to them.
So, what do we know about the holocaust? Precious little. We know bad things happened in WW2. We know that governments lie. We know that at least some of the stories about WW2 and its aftermath are lies. Seeing the scale to which we were lied-to to trick us into war in Iraq, prudence demands that we abandon what we were told to believe about history, ALL of history, and re-examine it all for ourselves, whether it is the Holocaust, the assassination of JFK, the attack on the USS Liberty, etc. Americans are the most lied-to people on Earth. Lying to Americans is big business. Whole networks and public relations empires are built on telling lies. Getting past those lies takes a great deal of work, and personal courage. We need to stop taking as authoritative source those people whose paychecks depend on the stories they tell, and start looking at what facts remain.
Tags: Holocaust, Teori Konspirasi
Agamaku tidak bersalah!
Saya sudah merasa eneg dengan banyak tulisan dari orang-orang yang katanya berpendidikan tinggi dalam berbagai bidang, bahkan dalam ilmu agama, tetapi ketika mengeluarkan pendapat sering tidak sesuai dengan level keilmuan mereka.
Yang belakangan gencar adalah tuduhan kalau agama (Islam) adalah sumber dari fundamentalisme, radikalisme, kekerasan dan bahkan terorisme. Well, jika agama adalah segala sumber dari semua ini, mengapa muncul baru akhir-akhir ini ? Islam sudah ada sejak 14 abad yang lalu, jadi mengapa radikalisme dan fundamentalisme yang bersinggungan terorisme baru muncul dewasa ini saja ?
Dalam sejarahnya, memang ada saja kelompok atau golongan yang memiliki pengertian ekstrim tentang Islam dan mengkristalisasinya dalam bentuk radikalisme, seperti khawarij misalnya, tapi tidak pernah kemudian kelompok itu mengadakan perang terhadap agama lain. Tapi sekarang ini berbeda, kelompok-kelompok radikal Islam selalu membawa-bawa bendera perang terhadap agama lain, dan kebudayaan lain. Atau mereka hanya GR ? merasa sedang membela Islam ?
Sangat naif kalau mengatakan bahwa Islam perse adalah bibit dari radikalisme, bahkan menurut saya, tidak ada hubungannya antara agama dan radikalisme atau fundamentalisme. Radikalisme dan fundamentalisme adalah response dari keadaan. Radikalisme dan fundamentalisme adalah salah satu mekanisme self-defense ketika merasa tidak mampu lagi beradaptasi dengan kondisi lingkungan saat itu.
Dan para penulis-penulis itu juga paham akan hal ini, bahwa faktor-faktor diluar agama itu sangat berpengaruh dalam pola pikir individu-individu dalam beragama, tapi mengapa setiap kali ada peristiwa yang pelakunya mengatasnamakan Islam, langsung agama Islam dituduh sebagai biang kerok ?
Ini bukan untuk mengcounter tulisan-tulisan itu, tidak cukup waktu dan data untuk itu. Hanya mempertanyakan, mengapa tulisan-tulisan tersebut tidak jujur.
Tags: Fundamentalis, Islam
Negara Paradox
Indonesia adalah
negara bahari, tapi nelayan adalah salah satu kaum termiskin
negara agraris, tapi petani adalah salah satu kaum termiskin
negara agamis, tapi salah satu instansi terkorup adalah instansi yang mengurusi masalah agama
negara hukum, tapi hukum rimba lebih dijunjung tinggi
negara berdaulat, tapi gampang didikte
negara dengan kekayaan alam yang berlimpah, tapi sebagian besar rakyatnya miskin
negara miskin, tapi mobil mewah laris bak kacang goreng
negara miskin, tapi sering menjadi ajang pameran barang mewah
negara bermoral, tapi moral adalah kata yang sering disandingkan dengan kata munafik
negara demokratis, tapi wakil rakyatnya tidak pernah memikirkan rakyat
negara republik, tapi para pejabatnya berperilaku layaknya raja
:razz:
Tags: Indonesia, Korupsi, Ngaco
Pemaksaan
Apa yang terjadi ketika orang-orang yang tidak punya uang tapi ingin menonton sepakbola klub kesayangannya ( benarkan? tidak keliatan seperti sayang pada umumnya.. ) yang diselenggarakan diujung pulau yang satunya lagi ? Mereka perlu transportasi, perlu makan, perlu uang tiket, perlu akomodasi lainnya..
Yang terjadi adalah pemaksaan.. dari pemaksaan terhadap media transportasi, biasanya yang cukup menderita adalah kereta api, dan mungkin juga media transportasi di tempat penyelenggaraan, terhadap para pedagang, dimanapun mereka menemukan ketika lapar, dan pemaksaan terhadap para petugas penjaga di stadion utama. Satu-satunya yang selamat dari pemaksaan sesuai dengan kebutuhan mereka adalah penyelenggara jasa penginapan, karena belum pernah kita dengar seorang memaksa menginap di hotel.
Pemaksaan demi pemaksaan tersebut terjadi karena daripada dihentikan, pihak-pihak yang berwenang mengalah pada tuntutan pemaksa. Dan seperti lintah yang akan terus menghisap darah, pemaksaan-pemaksaan itu akan terus terjadi sampai ada pihak yang mengambil keputusan untuk menghentikannya.
Tags: Maksa
Tentang Shalat Berjamaah
Kemarin sore setelah shalat Ashar, ketika saya mau berdzikir, seorang bapak, yang tadi shalat disamping saya menegur saya ..
“Besok-besok kalo mau shalat dan sudah ada yang shalat, bergabung saja, jangan shalat sendiri-sendiri”
Saya jawab, walaupun merasa agak terganggu :?: “Saya belum nemu dasar hukumnya untuk itu pak”
Dia agak kaget juga, tapi berkata, “Ada kok.. ada dalam contohnya orang-orang dulu, kalo ada yang jamaah langsung gabung aja”
Saya bilang, “Iya, kalo jamaahnya sudah ada, memang seperti itu, tapi kalo yang mencolek bahu, saya belum nemu pak”
Dia masih bilang “Ada kok, ada itu contohnya..”, sambil keluar musholla.
Satu setengah tahun yang lalu, teman saya pernah bilang kalo dia ternyata tidak bisa menemukan dalil yang memperbolehkan seseorang untuk menjadi makmum dari seseorang yang sedang shalat dengan cara mencolek bahu dari orang tersebut. Saya sempat heran pada waktu itu, masa sih tidak ada, kan prakteknya sudah umum kalo shalat menjadi makmum dengan cara seperti itu. Dia bilang sebenarnya dia ditantang oleh seorang uztadz untuk mencari dalil pembenaran dari shalat seperti itu, dan sampai saat itu tidak pernah menemukan.
Mulai saat itu saya juga mulai merasa ragu-ragu untuk berjamaah dengan mencolek imam, tapi masih sering melakukan terutama jika berdua atau lebih. Tapi jika pada saat itu saya hanya sendirian, maka saya biasanya shalat sendiri.
Peristiwa kemarin itu membuat saya mencoba mencari-cari di internet dalil atau apapun tentang shalat berjamaah, dan sampai saat ini saya juga belum menemukan satupun situs atau tulisan yang menyinggung masalah berjamaah dengan cara mencolek imam. Mungkin kriteria search saya yang salah atau memang belum ada yang menyinggung saya tidak tau, tapi yang jelas sampai saat ini, masih belum ada kepastian boleh tidaknya dilakukan.
Dalam prinsip hukum fiqh, segala sesuatu yang menyangkut ibadah itu terlarang, kecuali jelas diperbolehkan oleh agama. Oleh karena itu, hal ini jadi dilema besar bagi saya, karena well, tidak mudah untuk menolak jika saya diajak berjamaah seperti itu…
Satu-satunya jalan adalah mencari lebih lanjut hukumnya.
:wink:
Secara nalar, tidak mungkin tidak ada sebabnya mengapa cara bermakmum sedemikian, karena tidak mungkin ulama-ulama jaman dulu membiarkan praktek tersebut berlangsung didepan mata mereka.
Tapi mencari-cari masih belum nemu juga ![]()
Terantuk batu
:roll:
Malam ini sungguh malam bencana…..
Setelah melihat beberapa shoutbox dari blog-blog yang sempat saya kunjungi, saya merasa kalau shoutbox saya sendiri sangat adequate, bahkan kurang “bernilai seni” dan mempunyai keterbatasan yang saya nilai, well, agak fatal, yaitu hanya bisa memunculkan sedikit entry dari shoutbox.
Oleh karena itu dengan semangat yang menggebu-gebu, saya mencari shoutbox alternatif untuk saya tambahkan ke blog ini, dan saya menemuka dua yang layak dicoba, yaitu Jalenack AJAX WordSpew, dan WP-Shoutbox. Dan masih dalam semangat yang menyala itu, saya install kedua plugin, activate dan saya tambahkan code yang perlu di blog.
Oke, so far so good ( kalo ditambah so what.. jadi album Megadeth. Lame joke :razz: ). Saya coba browse blog saya, ternyata gagal.. kedua-duanya gagal.. Bahkan layout menjadi kacau balau.. arggg….
Oke, first thing to do is rollback..
SQL>rollback ( I Wish :razz: )
Singkatnya, code tambahan sudah dihapus, plug-in sudah dideactivate. Beres…. NOT. Ternyata menambah-nambah plugin membuat fungsi admin dari blog ini menjadi kacau.. sekarang menjadi error : Warning: Cannot modify header information… :eek:
Darn…..
Terpaksa mencari-cari kutu… semoga bisa ketemu biar bisa dipites.
eh, ada iklan dewi sandra…..:lol::lol::lol:
Masalah sudah bisa dipecahkan..
Setelah berpusing-pusing, ternyata masalah dapat diselesaikan dengan cara upload file plugin aslinya..
:cool:
Tags: Ajax, Belajar, Shoutbox, Wordpress
Menapaki lubang kelinci
Setelah seharian berkutat dengan b2evolution dan mengalami berbagai kesulitan, dari editing layout sampai penambahan fasilitas, seperti shoutbox, maka saya mengambil keputusan untuk menggantinya dengan wordpress.
Kesan pertama ternyata sudah melebihi harapan. Banyak plugin yang bisa didownload, setting layout yang relatif lebih mudah, dan yang paling bagus adalah disk space yang lebih sedikit daripada b2evolution. :smile:
Untuk sementara waktu ini, layout yang dipakai masih layout default, yaitu kubrik. Dan karena saya bukan seorang web desainer, maka kemungkinan pemakaian layout ini masih akan lama.
Well, kata orang yang penting kan fungsinya daripada kulitnya.. alasan tipikal programmer :lol:
Cathy
“Ku akui, cathy ini bagai hilang kendali…”
itu adalah sebagian dari lirik yang membuat saya tertawa terbahak-bahak. Bukan apa-apa, tapi lirik itu datang dari sebuah iklan deodoran oleh dewi sandra.. Cathy ?? keti kali ya, tapi dikuping terdengar sama :lol:
Berapa banyak perempuan indonesia bernama Cathy yang sebentar lagi akan diasosiasikan dengan salah satu bagian tubuh manusia yang dikenal sebagai penghasil aroma khas yang perlu dibasmi ? :lol:
Hilanglah nama Cathy sebagai salah satu nama yan cantik untuk diucapkan..
Poor Cathy..
Tags: Ngaco
Melangkah di lubang kelinci
Istilah yang sedikit tidak umum bagi kita bangsa indonesia yang bukan penikmat cerita Alice in wonderland, tapi bisa memberikan gambaran seperti apa perasaan saya sekarang ini.
Ini adalah pertama kalinya saya membuat, tepatnya menulis, pada blog milik saya sendiri, di domain saya, dengan segala aspek bisa saya atur sesuka hari saya.. hei, boleh dong seseorang merasa bangga atas apa yang dia miliki, walaupun apapun itu sesungguhnya telah banyak dimiliki oleh orang lain.
Ya, seperti Alice yang sedang menapaki dunia baru, inilah saya..
